1. News
  2. Mojok
  3. Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

toilet-rumah-sakit-memang-bersih,-tapi-tubuh-saya-“menolak”-dan-tidak-bisa-buang-air-di-sana
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Bulan lalu, saya terpaksa harus menginap di rumah sakit demi menjaga istri yang sedang dirawat. Sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi ritual “panggilan alam” setiap pagi, saya tahu ini akan menjadi tantangan berat. Bukan karena saya takut kotor, sama sekali tidak. Justru sebaliknya, toilet rumah sakit tempat istri saya dirawat itu sangat bersih, wangi, dan terawat dengan standar kebersihan yang layak.

Namun, entah kenapa meski sudah bersih pun tubuh saya tetap saja melakukan aksi mogok kerja. Ada semacam dinding psikologis yang membuat aktivitas BAB—yang seharusnya menjadi momen paling rileks dalam hidup—berubah menjadi sebuah perjuangan yang canggung dan penuh keganjilan.

Secara fisik, tidak ada yang salah. Lantai toilet rumah sakit kering, tak ada hal-hal kotor karena sering dibersihkan. Pun pencahayaannya juga terang benderang. Tapi begitu saya duduk di sana, rasanya tidak bisa “plong”. Ada rasa canggung yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, seolah-olah tubuh ikut menahan diri karena suasana sekitar yang memang tidak mendukung untuk melakukan “tugasnya”.

BACA JUGA: WC Duduk Lebih Mengancam dan Menjijikkan, Toilet Umum Terbaik Adalah yang Menggunakan WC Jongkok

Saya bingung, tapi begitulah rasanya

Mengapa hal sesederhana ini bisa jadi begitu rumit? Saya rasa ini masalah psikologis yang mendalam. Rumah sakit adalah tempat di mana ketegangan, rasa sakit, dan suasana formal berkumpul jadi satu. Pikiran kita sedang dalam mode waspada atau sedih, sementara tubuh butuh kondisi rileks total untuk menyelesaikan urusan “pencernaan”.

Bagaimana mungkin kita bisa rileks kalau selalu terbayang dengan penyakit, rasa sakit, dan orang kesakitan?

Meskipun bilik toilet tertutup rapat, rasa privasinya tetap terasa semu. Sensitivitas terhadap rasa sakit itu mungkin saja membuat konsentrasi buyar. Padahal, di rumah sendiri, kita bisa duduk berlama-lama sambil baca ponsel tanpa beban dunia sedikit pun.

Di rumah, semuanya terasa familiar. Kita sudah hafal dengan ritmenya, posisi duduknya, bahkan suara tetesan airnya. Tubuh kita punya memori terhadap kenyamanan rumah yang tidak bisa diduplikasi oleh hotel bintang lima sekalipun, apalagi oleh sebuah rumah sakit. Di sana, toilet adalah fasilitas umum yang digunakan secara bergantian, meski dibersihkan berkali-kali pun, jejak “ketidaknyamanan” itu tetap menempel di dinding-dindingnya.

Tidak semua orang bisa adaptasi dengan cepat dengan toilet rumah sakit

Adaptasi seperti ini memang tidak mudah bagi semua orang. Ada tipe orang yang bisa buang air di mana saja asalkan bersih, tapi bagi saya, tubuh dan pikiran tidak bisa diajak kompromi begitu saja.

Akhirnya, saya lebih sering memilih untuk menahan atau menunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan, menunggu momen “darurat” yang benar-benar tidak bisa dinegosiasikan lagi.

BTW ketika menjaga istri, saya baru sadar kalau ini bukan cuma saya yang merasakan. Ibu mertua saya juga merasakan hal yang sama. Kami sama-sama melakukan “panggilan alam” itu ketika di rumah. Rasanya memang lebih lega.

Pun, istri saya yang pernah menjadi perawat juga mengiyakan perasaan ini. Saya ingat betul pada suatu kesempatan ketika mengunjungi rumah sakit (yang dulunya ia pernah bekerja di sana), ia memilih toilet karyawan untuk menuntaskan hajatnya. Iya, bahkan bagi perawat sekalipun, toilet rumah sakit tetap saja hal yang agak susah dihadapi.

Pada akhirnya, balada toilet rumah sakit ini mengajarkan kita bahwa kenyamanan itu bukan cuma soal kebersihan atau kemewahan fasilitas.

Yah, urusan panggilan alam memang tak bisa dihindari, tapi memilih tempat yang nyaman untuk menuntaskannya adalah pilihan bagi umat manusia. Dan sekali lagi, toilet rumah sakit boleh saja wangi dan kinclong, tapi selama ia berdiri di antara aroma obat dan suasana muram, ia akan tetap menjadi tempat yang paling ingin kita hindari.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Aturan Numpang Toilet Indomaret yang Perlu Diketahui. Jangan Asal Nongkrong meski Kebelet!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us