Tidak mudah membiarkan kesempatan kuliah Kedokteran UGM berlalu begitu saja …
Keberhasilan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Kalimat ini mungkin pernah kita baca di belakang truk, bersliweran di video-video inspiratif, ataupun diucapkan oleh seorang motivator di sebuah kegiatan berbayar. Kalian percaya dengan kalimat ini tidak?
Bagi sebagian orang, kalimat tersebut sering kali terdengar seperti penghibur atau… apa ya istilahnya? Mekanisme penanggulangan. Sebuah kalimat yang digunakan oleh mereka yang baru saja ditumbangkan oleh ekspektasi, supaya tidak terlihat terlalu menyedihkan di mata dunia. Padahal mah aslinya remuk.
Akan tetapi, bagi Susan (tentu saja bukan nama aslinya), kalimat tersebut bukan sekadar mekanisme penanggulangantapi kisah hidupnya.
Berjuang untuk mimpi yang sama
Saya mengenal Susan lewat cerita ibunya. Kebetulan, saya dan ibu Susan bergabung di sebuah organisasi yang sama. Jadi ya, kami sering bertemu dan bertukar cerita. Salah satu topik obrolannya, jelas, seputar anak. Namanya juga emak-emak.
Setelah lulus SMA, Susan sebenarnya sudah mengamankan posisi karena diterima di sebuah politeknik untuk jenjang D3. Namun, hati kecil Susan ingin mencoba peruntungan di jalur sekolah kedinasan. Maka, dengan restu orang tua, dia pun mendaftar di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG).
Saat tes masuk di STMKG, Susan berhasil melaju mulus di tes tertulis. Sayangnya, langkah Susan harus terhenti di tes fisik. Namun, Susan tidak mau menyerah pada keadaan. Sambil menjalani rutinitas sebagai mahasiswa aktif di politeknik, Susan kembali mempersiapkan diri untuk ikut tes sekolah kedinasan untuk tahun berikutnya.
Sayang, sama persis seperti tahun sebelumnya, Susan kembali tumbang di tahapan tes fisik.
Ketika mimpi berpindah haluan
Meski dua kali gagal di lubang yang sama, Susan tidak jera. Memasuki tahun ketiganya kuliah di politeknik, yang artinya tinggal setahun lagi dia akan lulus, Susan masih menyimpan ambisi untuk mencoba tes kedinasan sekali lagi. Atas saran dari ibunya, Susan mendaftar ke sekolah kedinasan yang tidak menyertakan tes fisik dalam rangkaian seleksinya. Akhirnya, pilihan Susan jatuh pada Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS).
Bukan hanya itu. Di tahun terakhir kesempatannya mengikuti seleksi mahasiswa baru ini, Susan memutuskan untuk serangan habis-habisan. Dia mengambil keputusan berani untuk banting setir ikut serta dalam Ujian Mandiri (UM).
Kampus pilihannya? Nggak tanggung-tanggung: UGM. Pilihan jurusannya pun tidak main-main. Susan memilih fakultas yang menjadi impian tertinggi bagi banyak anak pintar di negeri ini: Fakultas Kedokteran. Susan benar-benar bertaruh dengan seluruh sisa energi dan waktu yang dimilikinya.
Pengumuman demi pengumuman pun tiba. Susan gagal di STIS. Tapi semesta seperti mengajak bercanda ketika pengumuman UM UGM keluar. Susan berhasil lolos!
Berdamai dengan merelakan Kedokteran UGM
Kabar kelulusan Susan di Fakultas Kedokteran UGM itu tentu mendatangkan gelombang kebahagiaan. Meski, tak bisa dimungkiri, kabar bahagia tersebut juga membawa beban.
Biaya kuliah kedokteran jalur mandiri sangatlah mahal. Di awal perkuliahan, setidaknya harus ada dana segar minimal Rp100 juta. Bagi orang tua Susan, angka itu terasa seperti pungguk merindukan bulan. Bapak Susan hanyalah seorang karyawan pabrik biasa, sedangkan ibunya seorang guru swasta yang penghasilannya di bawah UMR. Itupun, kadang gajian kadang tidak.
Meski demikian, beratnya beban finansial ini tidak pernah ditunjukkan atau dikeluhkan orang tua Susan di depan Susan. Bagaimanapun juga, mereka tidak tega mematahkan sayap anaknya yang baru saja terbang. Tanpa sepengetahuan Susan, bapak dan ibu Susan sudah pasrah bersepakat bulat untuk menjual rumah, demi membiayai pendidikan dokter Susan.
Tapi, kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?
Susan yang kedebugan 3 kali gagal ikatan dinas lalu akhirnya berhasil tembus kedokteran UGM ini, dengan rasa legowo memilih untuk mundur. Sepertinya, Susan menangkap kecemasan yang disembunyikan orang tuanya. Sehingga, dia memilih untuk berdamai dengan kenyataan.
“Mamah nggak usah khawatir. Kakak bisa tembus ke UGM saja sudah seneng. Itu artinya, Kakak bisa membuktikan ke diri kakak sendiri, ke mamah, ke papah dan ke adik kalau kakak ini bisa.”
Dan, dinding rumah pun jadi saksi bagaimana pasangan ibu dan anak ini kemudian saling berpelukan dengan penuh derai air mata.
Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh