
Melihat Wajah Baru Pasar Klewer Solo pada 1971, Beralih Jadi Pusat Tekstil Terbesar di Jawa Tengah | Indonesia Raya 6 Juni 1971
Pasar Klewer adalah salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pusat perbelanjaan ini menjadi sentra tekstil terbesar yang ada di Jawa Tengah.
Tahukah Kawan, sebelum berdiri megah seperti saat sekarang, Pasar Klewer ternyata dulunya hanya bermula dari pusat perbelanjaan sederhana. Bahkan pasar ini sudah berkembang sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.
1971 menjadi tahun penting bagi riwayat perjalanan Pasar Klewer. Sebab pada tahun inilah pasar tersebut mulai beralih dari yang awalnya hanya sekadar pusat perbelanjaan sederhana menjadi pasar modern.
Bagaimana momen saat wajah baru Pasar Klewer dikenalkan pada 1971 tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Riwayat Pasar Klewer
Dinukil dari artikel “Menengok Ke: Pasar Klewer Sala” yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 6 Juni 1971, eksistensi dari Pasar Klewer dimulai sejak Masa Pendudukan Jepang. Pada waktu itu, lokasi tempat pasar ini merupakan tempat latihan Korps Musik Prajurit Keraton Kasunanan.
Oleh sebab itu, daerah ini diberi nama “Slompretan.” Nama tersebut merujuk pada alat musik yang dimainkan oleh korps musik tersebut.
Kawasan ini dulunya juga menjadi lokasi pemberhentian kereta api yang digunakan oleh para pedagang. Adanya transaksi yang ada di daerah tersebut juga menjadi cikal bakal dari pasar yang ada di Slompretan.
Para pedagang yang datang ke daerah ini pada awalnya berasal dari Banjarsari. Para pedagang membawa barang dagangan kain batik yang kemudian dijual di pasar tersebut.
Cara para pedagang membawa barang dagangannya ini kemudian menjadi asal usul dari penamaan Pasar Klewer. Para pedagang yang datang dari daerah Banjarsari membawa barang dagangan dengan cara dipikul di pundaknya masing-masing.
Pada saat dipikul ini, kain-kain batik tersebut menjuntai secara tidak beraturan, atau dikenal juga dengan istilah “berkleweran.” Atas dasar ini, pasar yang menjadi pusat jual beli produk tekstil tersebut kemudian dikenal dengan nama Pasar Klewer.
Perkembangan Pasar Klewer makin pesat setelah Indonesia merdeka pada 1945. Volume perdagangan dan perputaran roda ekonomi makin berkembang pesat di pasar tersebut.
Namun sejarah kelam pernah terjadi di Pasar Klewer pada 1966. Saat itu, musibah banjir melanda Pasar Klewer dan turut memberikan dampak bagi para pedagang.
Akibat banjir ini, Pasar Klewer terendam selama 3 hari 2 malam. Sebagian bangunan Pasar Klewer turut berdampak akibat musibah tersebut.
Wajah Baru Pasar Klewer pada 1971
Musibah banjir yang terjadi pada 1966 turut memunculkan ide untuk memperbarui bangunan dari Pasar Klewer. Ide ini sebenarnya sudah muncul sejak sebelum musibah itu terjadi.
Adanya keinginan untuk memperbarui arsitektur bangunan Pasar Klewer sudah mulai mencuat. Keinginan untuk menampilkan kesan pasar modern, tetapi juga tidak meninggalkan unsur budaya ingin diterapkan di pusat perbelanjaan tersebut.
Akhirnya musibah banjir yang terjadi pada 1966 makin mendorong perubahan ini. Walaupun demikian, perubahan ini tidak berjalan mulus begitu saja.
Ada juga pro dan kontra yang muncul selama proses pembaruan Pasar Klewer. Misalnya, sempat ada demonstrasi dari para pedagang yang khawatir dengan posisi mereka dalam pembaruan tersebut.
Meskipun sempat terjadi beberapa pro kontra, seperti alokasi para pedagang, proyek ini akhirnya tetap dijalankan pada 1970. Ratusan juta digelontorkan oleh pemerintah pusat untuk pembaruan Pasar Klewer.
Namun alokasi dana ini diberikan dengan satu syarat, yaitu pengerjaan bisa selesai dalam jangka waktu satu tahun. Akhirnya wajah baru Pasar Klewer secara resmi dikenalkan pada 8 Juni 1971.
Presiden kedua Indonesia, Soeharto turut hadir dan meresmikan langsung pembukaan Pasar Klewer pada waktu itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor