Sebagai orang yang suka baca buku, menulis dan menerbitkan buku sendiri adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Saya yakin saya bukan satu-satunya. Namun setelah menelaah lebih dalam tentang pekerjaan sebagai penulis, atau lebih tepatnya penulis novel online, saya baru sadar kalau hal tersebut bukan sebuah perjalanan mudah.
Saya sempat pesimis. Sempat buat beberapa draft novel, tapi tidak ada satu pun yang akhirnya jadi sebuah buku. Sempat mau menyerah, sampai akhirnya menemukan sebuah platform yang memberi ruang bagi para penulis awam menerbitkan cerita buatan mereka.
Saya mencoba menulis di salah satu platform tersebut. Niatnya untuk pembelajaran awal supaya jadi bekal nanti jadi penulis beneran. Sampai tak terasa lebih dari tiga tahun berlalu. Tapi, jangankan jadi penulis novel yang sesungguhnya, karier jadi penulis novel online saja tak berkembang kemana-mana.
Di sini, saya mau menjelaskan secara singkat pengalaman tersebut. Mungkin, bisa jadi pembelajaran bagi yang membaca.
Yang bisa saya pastikan ialah, membuat novel online jauh lebih mudah dibanding membuat buku yang diterima penerbit. Setidaknya kita tidak butuh waktu berbulan-bulan untuk menunggu kabar buku kita diterima atau ditolak. Tinggal daftar di platform penulisan, dan cara daftarnya juga mirip seperti daftar media sosial.
Setelah memiliki akun, tinggal buat buku yang mau dipublish. Tidak perlu ada proses seperti ketemu editor selama berkali-kali.
Di sini saya jelaskan sedikit tentang cara supaya buku kita dipublish. Pertama kita daftarkan buku yang mau kita tulis. Daftarkan judul novel, deskripsi, genre, sampai cover novel.
Biasanya, setelah buku didaftarkan, butuh waktu beberapa jam sampai beberapa hari untuk bisa disetujui. Setelahnya, barulah kita bisa mulai mengupload tulisan per bab.
Di sinilah salah satu perbedaan antara novel online dan novel cetak. Di platform novel online, kita sudah bisa mulai menyebarkan buku ke pembaca walaupun seluruh cerita belum selesai kita tulis. Meski cuma baru nulis 5 sampai 6 bab, buku kita sudah bisa ditemukan oleh pengunjung situs. Tapi memang jauh lebih baik jika sebelum itu kita tulis dulu garis besar ceritanya, supaya tidak bingung nanti cerita mau dibawa kemana.
Dari titik ini saya sarankan untuk konsisten mengupload setidaknya satu bab tiap hari. Sama seperti TikTok atau YouTube. Sejak mulai menapaki jalan ini, kita harus bertarung melawan algoritma supaya karya kita bisa “viral”.
Keluh kesah menjalani karier sebagai penulis novel online
Dari poin sebelumnya, saya sudah sedikit menjelaskan soal langkah awal memulai karier. Tapi lebih baik kalian cari platform-platform novel online di Google dan baca aturan tiap situs dengan lebih lengkap. Sekarang, saya mau membahas perjalanan singkat selama tiga tahun terakhir.
Selama waktu tersebut saya sudah mendapat penghasilan ratusan dolar. Lumayan. Tapi belum bisa dikategorikan sebagai sebuah penghasilan utama yang layak. Cara pembayaran atau kriteria penulis dibayar tergantung platform-nya. Saya sendiri dapat bayaran lewat PayPal juga dalam bentuk dolar karena induk perusahaan platform di mana novel saya diterbitkan berasal dari luar negeri.
Besar kecil bayaran saya tergantung dari banyak sedikitnya pembaca yang berkunjung. Durasi pembaca membaca buku saya juga ikut berpengaruh. Sungguh mirip seperti YouTube. Bedanya cuma skala, karena warganet Indonesia yang nonton video jauh lebih banyak dibanding yang baca buku.
Saya harus mengakui bahwa novel-novel yang sejauh ini saya buat masih tergolong jelek. Bisa dibaca sampai belasan ribu orang sudah bisa dianggap hal luar biasa. Saya tetap harus berterima kasih ke platform ini karena diberi kesempatan.
Namun, ada beberapa hal yang tetap mengganjal di hati. Seperti sistem rekomendasi yang terkadang terasa tak adil. Saya dan beberapa penulis lain merasa buku-buku dewasa yang diisi banyak adegan panas justru lebih sering ditonjolkan oleh sistem. Kurangnya transparansi tentang bayaran juga jadi masalah.
Tak perlu tahu platform-nya, tapi pahami keresahannya
Di kesempatan ini saya tidak mau menyebutkan ada di platform mana novel saya tersebut. Tidak ada niatan untuk promosi. Anggap saja semua ini cuma ocehan seorang penulis amatir misterius. Saya masih belum secara resmi memutuskan ingin sepenuhnya berhenti. Cita-cita besar saya membuat novel cetak juga belum sirna. Tiga tahun tanpa hasil yang berarti terasa menyakitkan, tapi saya takut menyesal di masa depan kalau berhenti di tengah jalan.
Intinya saya mau menyampaikan bahwa menjadi penulis novel online memang bisa jadi salah satu pilihan bagi yang suka menulis. Akan tetapi ini bukan sebuah jalan yang mudah juga. Butuh komitmen jangka panjang serta kesabaran ekstra jika ingin berhasil.
Mudah-mudahan sih di antara kalian yang baca, dan yang mungkin mau mencoba mengikuti jejak saya sebagai penulis di masa depan, bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Amin.
Penulis: Irfan Farid Maulana
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Penulis Novel Online: Syaratnya Gila-gilaan, Persaingan Makin Ketat
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2026 oleh