1. News
  2. Mojok
  3. Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

sulitnya-menjelaskan-arah-mata-angin-di-jakarta-dari-perspektif-orang-jogja
Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

Saya asli Jogja dan hobi saya adalah jalan kaki. Sebagai orang yang hobi jalan kaki, saya memiliki kebiasaan menjelajahi tempat baru demi menentukan arah mata angin. Itu yang saya lakukan ketika tinggal di Jakarta.

Saya suka sekali menyempatkan waktu berjalan kaki di sekitar kos untuk memetakan tempat-tempat penting dan menentukan arah mata angin. Referensi lokasi seperti warteg, warung madura, tempat cukur rambut, hingga klinik dalam radius setidaknya tiga kilometer dari kos harus saya kuasai.

Tujuannya simpel. Saya cuma ingin punya pemahaman spasial mendalam sebagai pendatang di Jakarta. Ya sekaligus jaga-jaga kalau suatu saat memerlukan sesuatu.

Seperti umumnya orang Jogja, saya langsung mematok dalam pikiran bahwa landmark yang saya temui di jalanan sebagai “ancer-ancer” atau patokan arah mata angin. Lebih dari itu, orang Jogja pasti juga sudah terbiasa membayangkan perspektif lokasi seperti tampilan Google Peta yang terkunci ke arah utara.

Dengan begitu, kita bisa langsung tahu arah dan rute untuk menuju ke suatu lokasi berdasarkan mata angin. Sayangnya, kebiasaan membayangkan perspektif berdasarkan arah mata angin tidak begitu familiar di mata orang Jakarta.

Begini yang kemudian terjadi:

Tantangan pertama yang orang Jogja hadapi di Jakarta dalam menjelaskan perspektif arah mata angin adalah saat ada yang tanya alamat.

“Saudaraku, jika kamu ingin pergi ke jalan raya pergilah Saudara Tanah kemana kamu pergi?

Saya PD punya pemahaman tentang arah angin yang setara dengan warlock, meski radiusnya hanya tiga kilometer, tanpa ragu coba jelaskan.

“Ini Bapak udah bener ke arah barat aja ikuti jalan nanti mentok langsung ketemu jalan raya. Nah nanti ke selatan udah ke arah Tanah Abang,” jawab saya dengan keyakinan penuh.

“Gimana bang? Berarti ini saya tinggal lurus udah ketemu jalan raya? Abis mentok belok ke mana?” Saya yang balik bingung harus berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Iya bener, Pak. Ini lurus mentok terus belok kiri aja,” kali ini nada jawaban saya tak seyakin sebelumnya.

Dari kejadian tersebut saya tahu bahwa pemahaman tak cukup untuk membuat saya dengan cepat berganti perspektif sebagai orang pertama yang sedang berkendara. Setidaknya saya memerlukan beberapa detik untuk membolak-balik arah mata angin agar sesuai dengan kiri-kanan pengendara di Jakarta.

Ya gimana? Salah sedikit nanti saya salah jawab dan malah bikin orang nggak sampai tujuan.

Ojek online Jakarta bertanya titik antar

Nggak cukup satu, kesulitan orang Jogja juga sering berkutat menjelaskan patokan serta arah mata angin kepada pengendara ojek online yang mengantarkan makanan. Sebagai tambahan konteks, saya nggak bisa memberikan titik antar yang pas sesuai dengan lokasi biaya saya.

Nomor rumah kos saya di Jakarta itu juga tersembunyi sehingga agak sulit terlihat dari jalanan luar. Solusinya, saya nebeng titik di kos sebelah yang terletak di sebelah timur bangunan kos yang saya tempati untuk memudahkan walaupun akhirnya ribet juga.

Driver biasanya memiliki pertanyaan template untuk memastikan lokasi,

“Titik sudah benar sesuai ya?”

Saya sebenarnya sudah memberi tambahan informasi arah mata angin pada notes lokasi. Selain itu, saya juga nggak keberatan menjelaskan di kolom chat kepada driver bahwa lokasi saya berada di sebelah timur kos tetangga yang saya gunakan sebagai titik.

Namun, ekspektasi memang nggak selamanya sesuai realita. Entah sudah berapa kali driver malah berhenti di sebelah timur atau bahkan di seberang titik.

Nggak jarang ada driver yang menghubungi sesaat sebelum sampai.

“Mas rumahnya sebelum atau sesudah titik ya?”

Jujur pertanyaan tersebut juga agak sulit saya jawab. Saya makin bingung menempatkan perspektif saya sesuai arah mata angin menghadapnya driver. Terlebih sistem maps di ojek online sering delay yang membuat kita agak sulit menaksir posisi tepat driver.

Setelah berkali-kali hal tersebut kejadian dan malah membuat driver bingung, akhirnya saya memilih lebih berkompromi dengan menghadang di luar kos sebelum driver datang.

Nggak jarang saya harus keluar kos di tengah pertemuan online dalam waktu yang lama karena menunggu driver datang. Tapi nggak ada salahnya juga memudahkan orang lain kan?

Mengarahkan jalan pintas ke ojek online pakai arah mata angin

Dua studi kasus sebelumnya semakin menyimpulkan dalam benak saya bahwa orang Jakarta sepertinya memang lebih familiar dengan kanan-kiri, seberang, dan sebelum-sesudah untuk patokan lokasi. Lama-kelamaan, saya jadi terbiasa dan saat ini sudah semakin lihai memberikan panduan arah mata angin kepada ojek online. Terlebih saat menyarankan jalan pintas.

Sebenarnya, arah mata angin punya kelebihan dalam perspektif spasial secara lebih luas. Kita nggak perlu memberikan instruksi pada setiap belokan.

Asal sudah tahu arah tujuannya, masuk-masuk gang kecil juga menjadi nggak masalah. Tapi dengan situasi yang ada, saya harus menyesuaikan diri dengan siap memberi instruksi pada tiap belokan. Agak berisik dikit nggak masalah lah ya. Hehe.

“Pak, nanti perempatan lurus mentok terus belok kanan. Habis itu pertigaan pertama belok kiri, ikutin jalan aja. Kosnya setelah bangunan tingkat yang besar itu dan di seberang rumah warna abu-abu.” Begitulah kira-kira instruksi panjang yang terjadi setelah jam terbang yang cukup panjang. Asoyy deh.

Toh kalau memaksakan menggunakan arah mata angin sebagai panduan seperti di Jogja, hal tersebut malah rawan bias dan membuat orang di Jakarta makin bingung.

Sebenarnya nggak semua orang bingung juga sih. Tapi dari beberapa kasus yang saya temui tadi sepertinya akan lebih aman jika menghindari penggunaan arah mata angin. Wes syulit pokoke apalagi kalau nyasarin orang malah berabe nanti, bisa ditandai akamsi. Etdahh.

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim

Redaktur: Yamadipati Seno

BACA JUGA Ketika Jogja Nggak Ramah bagi Orang Buta Arah Mata Angin, Google Maps Adalah Penyelamat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us