Sebagai orang Sunda, saya sudah terlalu sering mendengar lelucon yang bilang kalau orang Sunda itu pemalas. Versi lain yang lebih pedas, cowok Sunda itu katanya pemalas, maunya nongkrong di warung kopi sambil ngelamun melihat gunung.
Kalau sudah begitu, rasanya tinggal menunggu ada yang menyimpulkan kalau kami bisa hidup hanya dengan menghirup udara Lembang. Lucunya, stereotipe itu terus hidup seolah-olah menjadi fakta ilmiah.
Padahal, kalau dipikir-pikir, siapa juga yang bisa bertahan hidup cuma modal santai? Harga beras naik, tagihan internet datang tiap bulan, cicilan motor tidak bisa dibayar pakai senyum.
Orang Sunda juga bekerja, mengejar target, kuliah, berbisnis, bahkan merantau ke kota-kota besar. Bedanya, kami tidak merasa perlu menjadikan kelelahan sebagai pencapaian hidup.
Entah sejak kapan budaya kerja berubah menjadi perlombaan siapa yang paling sengsara. Sekarang orang merasa keren kalau pulang kantor jam sembilan malam. Bangga kalau grup WhatsApp kantor masih aktif jam sebelas malam. Tidur empat jam dianggap dedikasi.
Bahkan, ada yang mengunggah foto laptop di rumah sakit sambil berkata, “Kerja dulu, nanti juga sembuh.” Kalau dipikir-pikir, aneh juga.
Orang Sunda paham cara menjaga keseimbangan hidup
Kita hidup di masa ketika pemadaman dianggap konsekuensi profesionalisme. Semakin lelah seseorang, semakin dianggap sukses. Semakin tidak punya waktu untuk keluarga, semakin dipuji sebagai pekerja keras.
Seolah-olah kualitas hidup harus dikorbankan demi presentasi PowerPoint yang minggu depan mungkin sudah direvisi lagi.
Nah, di titik inilah stereotipe tentang orang Sunda menjadi menarik. Apa yang sering disebut “malas” sebenarnya lebih mirip sikap yang berusaha menjaga keseimbangan hidup.
Orang Sunda bukan tidak mau bekerja keras. Kami paham betul bahwa hidup butuh ikhtiar. Sawah tidak akan panen sendiri, dagangan tidak akan laku kalau cuma didoakan, dan skripsi jelas tidak akan selesai kalau hanya disimpan di folder bernama “Final Fix Revisi Beneran.”
Akan tetapi, bekerja keras bukan berarti harus menghancurkan diri sendiri.
Dalam keseharian masyarakat Sunda, ada kebiasaan yang sering dianggap remeh: menyempatkan bercanda atau humor di sela pekerjaan. Di kantor, di kebun, di warung, bahkan saat gotong royongselalu ada ruang untuk tertawa.
Dari luar mungkin terlihat seperti banyak mengobrol. Padahal justru itulah cara menjaga semangat agar pekerjaan tetap terasa ringan.
Sekarang coba bandingkan dengan budaya kerja modern. Banyak orang duduk delapan jam di depan layar tanpa jeda. Lalu mereka heran sendiri mengapa pikirannya penuh, emosinya pendek, dan tubuhnya mulai protes.
Barangkali yang kurang bukan tambahan kopi, melainkan tambahan waktu untuk menarik napas.
Belajar dari orang Sunda
Budaya Sunda sebenarnya menyimpan banyak nilai tentang etos kerja yang sering luput dibicarakan.
Salah satunya tercermin dalam pepatah “sehat, baik hati, sejati, pintar, dan penyanyi”. Artinya kurang lebih, menjadi manusia yang sehat, baik, benar, cerdas, sekaligus terampil.
Menariknya, urutan pertama bukan “kaya” atau “sibuk”, melainkan pulih atau sehat. Pesannya sederhana: apa gunanya pekerjaan hebat kalau tubuh dan pikiran sudah tumbang lebih dulu?
Ada pula semangat gotong royong yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama. Filosofi ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukan sekadar soal siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana semua orang bisa sampai ke tujuan tanpa saling meninggalkan.
Karena itu, kalau ada orang Sunda yang memilih pulang tepat waktu setelah pekerjaannya selesai, jangan buru-buru diberi label pemalas. Bisa jadi dia hanya paham bahwa hidup tidak berhenti di meja kerja.
Bagi mereka, masih ada keluarga yang menunggu di rumah dan teman yang mengajak ngopi. Masih ada pula waktu menikmati hujan sore sambil makan gorengan hangat tanpa dihantui notifikasi rapat dadakan.
Ironisnya, dunia sekarang justru mulai mengampanyekan konsep yang selama ini dianggap “kemalasan” ini. Istilahnya berubah menjadi keseimbangan kehidupan kerja, kesejahteraan mentalsampai berhenti dengan tenang.
Seminar tentang kesehatan mental bermunculan di mana-mana. Perusahaan mulai menyediakan hari kesehatan mental bagi karyawannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, banyak orang Sunda sudah mempraktikkan ritme hidup seperti itu sejak lama tanpa perlu memberi nama keren dalam bahasa Inggris.
Melihat kembali cara melihat kesibukan
Bukan berarti semua kebiasaan santai harus dibenarkan. Bermalas-malasan tanpa tanggung jawab tentu berbeda dengan bekerja secara sehat.
Orang Sunda juga mengenal pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan. Santai bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban. Justru karena pekerjaan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, waktu istirahat bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.
Mungkin yang perlu diubah bukan cara hidup orang Sunda, melainkan cara kita memandang kesibukan. Sebab, sibuk bukan selalu berarti produktif. Lembur bukan otomatis berarti berkinerja tinggi. Dan, wajah yang terlihat lelah juga bukan medali kehormatan.
Barangkali sudah waktunya kita berhenti mengukur etos kerja dari seberapa sering seseorang mengeluh capek.
Bisa saja orang yang pulang tepat waktu justru menyelesaikan pekerjaannya lebih efektif daripada mereka yang setiap malam masih berkutat dengan laptop. Bisa saja orang yang sempat humor lima belas menit memiliki pikiran yang lebih segar saat mengambil keputusan penting.
Jadi, kalau masih ada yang bilang orang Sunda itu pemalas, mungkin mereka hanya belum memahami bahwa menikmati hidup bukan musuh dari kerja keras.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar target tanpa garis akhir, menjaga kesehatan mentaltertawa bersama, dan memberi ruang untuk diri sendiri justru menjadi bentuk kedewasaan yang semakin langka.
Penulis: Irpan Maulana Arip
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sisi Lain dari Orang Sunda yang Murah Senyum.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh