1. News
  2. Berita
  3. Dari Lebah Madu Tumbuh Jembatan Persaudaraan Lintas Iman di Yogyakarta

Dari Lebah Madu Tumbuh Jembatan Persaudaraan Lintas Iman di Yogyakarta

dari-lebah-madu-tumbuh-jembatan-persaudaraan-lintas-iman-di-yogyakarta
Dari Lebah Madu Tumbuh Jembatan Persaudaraan Lintas Iman di Yogyakarta

Di halaman Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (30/7/2026), puluhan tamu berkumpul menyaksikan panen madu dari kotak-kotak lebah yang baru beberapa bulan dibudidayakan. Sepintas, agenda ini tampak sekadar peluncuran produk madu lokal Madu Surya Asy-Syifa.

Namun, di balik seremoni tersebut, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah cerita yang jauh lebih besar dan dalam, yakni rajutan kolaborasi lintas iman. Bangunan persaudaraan ini tidak cuma berdiri di ruang dialog, melainkan melalui kerja bersama untuk membangun ekologi, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan masa depan anak-anak panti. Produk madu hanyalah salah satu buah dari proses panjang yang sedang dirintis berbagai pihak di Yogyakarta.

Embrio kolaborasi itu mulai ditanam hampir sebulan sebelumnya. Pada 4 Juli, tim pengembangan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah bersilaturahmi dengan Romo Martinus Joko Lelono yang kala itu sebagai pastor Paroki Santo Mikael, Lanud Adisucipto. Pertemuan ini menyusun visi besar mengenai rebranding panti menuju lembaga yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Gagasan yang dibawa meliputi pembenahan fasilitas, penguatan pendidikan, pembentukan karakter, pemberdayaan anak-anak asuh, hingga pengembangan panti berbasis ekologi melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Romo Joko menyambut gagasan tersebut dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak agar panti berkembang menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan masyarakat, sekaligus laboratorium percontohan panti berbasis ekologi.

Pertemuan itu lantas berlanjut pada Minggu, 12 Juli. Kali ini pembicaraan menjadi jauh lebih konkret. Romo Joko tidak hanya berdiskusi mengenai konsep besar, tetapi juga melihat langsung berbagai aktivitas yang sudah berjalan di panti. Ia mengikuti demonstrasi panen madu, meninjau bengkel keterampilan para santri, hingga berdialog mengenai arah pengembangan kelembagaan.

Dari rangkaian kunjungan tersebut lahir sebuah kesepahaman bahwa transformasi panti tidak cukup hanya memperbaiki bangunan fisik, melainkan juga harus memperkuat budaya organisasi, pendidikan karakter, kepedulian sosial, serta membangun ekologi yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, pengurus panti Tofani Arief Budiman Pane menekankan, pengembangan lembaga tidak mungkin dilakukan sendirian. “Panti terus berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan menjalin kerja sama bersama berbagai pihak,” katanya.

Ia berharap, dari silaturahmi tersebut lahir berbagai kerja sama, ide, dan program yang bermanfaat bagi perkembangan panti.

Harapan itu disambut Romo Joko yang memandang pertemuan tersebut sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus membangun kerja sama yang memberi dampak positif bagi masyarakat. “Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan, saling bertukar gagasan, dan membangun kerja sama,” ujarnya.

Romo Martinus Joko Lelono (kiri) bersama Kepala Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta Tri Haryanto (tengah) menunjukkan madu siap panen di peternakan lebah madu yang dikelola panti. DOK PANTI ASUHAN YATIM PUTRA MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Bekal hidup mandiri

Seluruh peserta diskusi lantas menyepakati sebuah gagasan yang menarik, yakni menjadikan Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta sebagai “pusat peradaban”.

Dalam konsep tersebut, panti tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat pengasuhan anak-anak yatim, tetapi berkembang menjadi ruang lahirnya pendidikan, pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, hingga kolaborasi lintas sektor.

Tim dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta contohnya, berkomitmen membantu penyusunan konsep branding dan pengembangan fisik panti. Seluruh pengembangan didesain agar panti memiliki kawasan yang lebih hijau sekaligus mampu membangun unit-unit usaha produktif yang menopang kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai lembaga pengasuhan dan pendidikan.

Lewat konteks itulah budidaya lebah memperoleh makna yang lebih luas, saat Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo hadir meresmikan Madu Surya Asy-Sifa sekaligus melakukan panen madu secara langsung pada 30 Juli. Hasto melihat program tersebut sebagai usaha ekonomi serta inovasi relevan bagi kota dengan lahan terbatas seperti Yogyakarta.

“Di tengah keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Yogyakarta, ternyata masih bisa dikembangkan budidaya lebah madu seperti ini. Ini merupakan inovasi yang sangat baik dan layak diapresiasi karena mampu menghadirkan nilai ekonomi, pendidikan, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan,” ujar Hasto.

Ia menambahkan, “Ekosistem seperti ini harus terus dikembangkan. Semakin banyak tanaman berbunga dan semakin banyak lebah yang dibudidayakan, maka kualitas lingkungan kota juga akan semakin baik.”

Bagi pengelola peternakan lebah panti, Bambang, madu bukanlah tujuan akhir. Budidaya lebah sejak awal dirancang sebagai media pembelajaran sekaligus pemberdayaan anak-anak panti agar memiliki bekal hidup ketika kelak mandiri.

“Tujuan utamanya adalah melatih anak-anak panti supaya nantinya mereka memiliki keterampilan beternak dan bisa mandiri. Harapannya, ilmu yang mereka peroleh di sini dapat menjadi bekal ketika sudah hidup di masyarakat,” kata Bambang.

Sejumlah perwakilan tokoh lintas iman menghadiri panen madu dan peluncuran produk Madu Surya Asy-Sifa di Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta. FOTO DOK PANTI ASUHAN YATIM PUTRA MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Ruang belajar bersama

Saat ini, panti mengelola 11 rumah lebah Apis mellifera yang mampu menghasilkan sekitar 200-500 gram madu setiap kali panen dari koloni yang siap dipanen. Sumber pakan lebahnya berasal dari tanaman berbunga di sekitar lingkungan panti.

Semangat membangun kemitraan itu juga dipanggungkan Kepala Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Yogyakarta, Tri Haryanto. Ia menyebut sinergi antara Pemerintah Kota Yogyakarta, Muhammadiyah, dan berbagai pihak menjadi energi baru bagi panti yang kini memasuki usia satu abad.

“Kami menjadikan momentum ini sebagai awal gerakan baru untuk membangun generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, berjiwa perjuangan, serta menjunjung tinggi persaudaraan dan kerukunan,” katanya.

Menurut Tri, pengembangan Madu Surya Asy-Syifa merupakan bagian dari ikhtiar membangun kemandirian panti agar mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Apa yang terjadi di Yogyakarta ini menarik karena memperlihatkan wajah lain dari dialog lintas iman. Kerja sama tidak berhenti pada simbol atau pernyataan persaudaraan, tetapi diterjemahkan menjadi aksi nyata, mulai dari menata lingkungan, membangun kewirausahaan sosial, memperkuat pendidikan karakter, hingga menciptakan ruang belajar bersama.

Pengurus Muhammadiyah, Gereja Katolik, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta elemen masyarakat lintas iman lainnya bergerak dalam satu visi yang sama untuk memberdayakan anak-anak panti dan merawat lingkungan.

Dari saran-sarang lebah di tengah kota, tumbuh jembatan dan pelajaran bahwa toleransi tidak selalu lahir dari podium-podium dialog, melainkan dari kesediaan berbagai pihak bekerja bersama menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Dari Lebah Madu Tumbuh Jembatan Persaudaraan Lintas Iman di Yogyakarta
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us