Tuan Tupai berlari menjauh dari lokasi tempat tinggalnya. Beberapa hari terakhir, rumah Tuan Tupai digusur, pepohonan tersisa setengah. Tak jarang gerungan keras terdengar membuat telinga sakit, lantas “Bum!” Pohon yang di tebang pun terjatuh.
Pikiran baru bagi beberapa penghuni hutan. “Di mana kami harus tinggal?”
Dan, itulah yang terjadi dengan Tuan Tupai, ia harus mencari tempat baru demi bisa menemukan makanan yang layak untuk di makan.
“Selamat pagi, Tuan Tupai!” Sapaan terdengar dari atas sana, seekor burung mengepakkan sayapnya.
“Selamat pagi, Tuan Burung!”
“Ke mana hendak engkau pergi, wahai Tuan Tupai?” Ia turun perlahan, mendekatkan jaraknya dengan Tuan Tupai.
“Aku hendak mencari makan, wahai Tuan Burung. Ke mana hendaknya engkau pergi?”
“Aku hendak mengunjungi sungai di penghujung hutan.”
“Mengapa engkau hendak mengunjungi sungai di penghubung hutan, wahai Tuan Burung.”
“Tidakkah engkau mengetahui kabar terbaru, wahai Tuan Tupai? Bahwasanya pasangan tertua di hutan ini telah berpulang.”
Tuan Tupai terdiam sejenak, ia tampak berpikir.
“Bukankah Tuan dan Nyonya Ikan masih sehat-sehat saja beberapa hari lalu?”
Tuan Burung menggeleng pelan.
“Maukah Tuan Tupai mengikutiku menuju rumah mereka?”
Tuan Tupai mengangguk, tentu saja ia akan menerima ajakan Tuan burung. Tuan Tupai berlari di antara dedaunan kering, mengikuti arah yang diberikan oleh Tuan Burung hingga sampai di tujuan.
Mereka mendekati sungai sebagai tempat tinggal Tuan dan Nyonya ikan.
Berbeda sekali dengan beberapa hari lalu. Sampah yang mengambang di sekitar mulut sungai, bau yang menyengat, serta air sungai yang keruh.
“Aku yakin, kepergian Tuan dan Nyonya Ikan karena sampah-sampah ini! Lihatlah semua ini, sampah-sampah ini membuat air sungai keruh, belum lagi dengan bau menyengatnya yang menusuk hidung,” ujar Tuan Kura-Kura, ia menjadi salah satu saksi atas segala kekerasan terhadap alam.
“Lantas, apa yang harus kita lakukan?” tanya Tuan Burung.
“Entahlah.” Di kala kesedihan melanda penghuni hutan, kawanan burung tiba, mereka memanggil-manggil Tuan Tupai.
“Kabar buruk Tuan Tupai! Pohon yang engkau tinggali ditebang!”
Ekspresi Tuan Tupai berubah panik, apakah itu alasannya pohon yang ditinggali diberi tanda silang?
Tuan Tupai berlari cepat menuju tempat tinggalnya, beberapa pekerja dengan rompi oranye sedang menebang pohon. Lantas “Bum!” Pohon itu terjatuh.
Tuan Tupai tersenyum getir. “Sudah ke sekian kalinya tempat tinggalku di tebang. Di mana aku harus tinggal esok hari?”
Itulah kesedihan yang sering dialami oleh para hewan di hutan-hutan.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Malika Lathifa
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
