1. News
  2. Komunitas
  3. YOTNC16 Bekali Generasi Muda Hadapi Kebimbangan Karier di Era Digital

YOTNC16 Bekali Generasi Muda Hadapi Kebimbangan Karier di Era Digital

yotnc16-bekali-generasi-muda-hadapi-kebimbangan-karier-di-era-digital
YOTNC16 Bekali Generasi Muda Hadapi Kebimbangan Karier di Era Digital

Jakarta (04/7)Konferensi tahunan Young On Top National Conference (YOTNC) 16 kembali menjadi wadah bagi lima ribu lebih anak muda Indonesia untuk belajar langsung dari para profesional di berbagai bidang. Bertempat di Swasana BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, sesi bertajuk “Nobody Has It All Figured Out: Menemukan Arah Karier di Tengah Banyaknya Pilihan” menghadirkan Holip Soekawan, Farhan, dr. Ikhsan, dan Andrea Novita. Dipandu oleh moderator Yuni, diskusi ini mengajak peserta memahami bahwa kebingungan dalam menentukan arah karier merupakan bagian dari proses bertumbuh yang dialami hampir setiap orang. 

Mengangkat keresahan yang banyak dialami generasi muda, sesi ini membahas berbagai tantangan mulai dari tekanan media sosial, rasa takut gagal, hingga kebingungan memilih jalan karier di tengah banyaknya peluang yang tersedia. Para pembicara sepakat bahwa setiap individu memiliki perjalanan yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan proses diri dengan pencapaian orang lain. Sebaliknya, keberanian untuk memulai, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal utama dalam menghadapi perubahan zaman. 

Membuka diskusi, Holip Soekawan, penulis buku Hidup Bimbang vs Seimbang, Generasi Cemas vs Emas, menjelaskan bahwa telepon genggam saat ini telah menjadi “panggung” bagi setiap orang. 

“Media sosial mampu menjadi ruang untuk berkembang sekaligus sumber kecemasan ketika seseorang terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.”

—Holip Soekawan

Ia mengingatkan bahwa rasa bimbang, terutama di usia 20-an, merupakan hal yang sangat wajar. Holip juga mengibaratkan perjalanan karier seperti Google Maps, di mana setiap orang bisa menempuh rute yang berbeda selama tetap memiliki tujuan yang jelas. Ia turut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan fisik, intelektual, sosial, dan spiritual sebagai fondasi agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. 

Pandangan tersebut diperkuat oleh Farhan yang membagikan kisahnya tumbuh di lingkungan keluarga yang menuntut kesempurnaan. Menurutnya, banyak anak muda takut mengambil langkah karena terbiasa menghindari risiko sejak kecil. Namun, pengalaman membangun bisnis dan mengembangkan personal branding membuatnya memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Berawal dari membuat konten secara sederhana, Farhan terus mengevaluasi, memperbaiki kualitas konten, hingga akhirnya berkembang seperti saat ini. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada satu pengalaman yang menjadi jalan pasti menuju kesuksesan. Setiap orang bebas mencari pengalaman melalui organisasi, komunitas, maupun kegiatan lain yang sesuai dengan minatnya. 

Sementara itu, Andrea Novita menceritakan bahwa ketertarikannya menjadi content creator berawal dari kebiasaan mendokumentasikan berbagai aktivitas sejak kecil. Latar belakangnya sebagai lulusan Teknologi Pangan justru membawanya menghasilkan konten edukatif yang dikemas dengan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat luas. Menurut Andrea, membangun personal branding tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Seseorang dapat memulainya dari akun media sosial pribadi dengan menunjukkan minat, kemampuan, dan karakter yang benar-benar mencerminkan dirinya. Baginya, konsistensi jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren.

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh dr. Ikhsan, yang mengaku tidak pernah merencanakan menjadi seorang content creator. Awalnya ia hanya membagikan konten edukasi kesehatan sebagai bentuk coba-coba, namun respons positif dari masyarakat membuatnya melihat peluang untuk terus berkembang. Ia berpesan agar anak muda tidak menunggu semuanya sempurna sebelum memulai. Menurutnya, banyak kesempatan baru akan terlihat ketika seseorang berani mengambil langkah pertama. dr. Ikhsan juga membagikan perjalanan menjadi dokter yang penuh tantangan dan tekanan, tetapi pada akhirnya memberikan rasa bangga karena dapat memberikan manfaat bagi banyak orang sekaligus membanggakan keluarga.

Antusiasme peserta semakin terasa pada sesi tanya jawab yang membahas berbagai topik, mulai dari cara memanfaatkan privilege di media sosial, membangun personal branding dalam jangka panjang, hingga menemukan passion. Para pembicara sepakat bahwa personal branding yang kuat tidak dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui keterampilan yang terus diasah secara konsisten. Mereka juga mengingatkan peserta untuk tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar keberhasilan diri sendiri, karena setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda.

Melalui sesi ini, YOTNC 16 kembali menghadirkan ruang belajar yang relevan bagi generasi muda untuk mengenali potensi dirinya. Berbagai pengalaman yang dibagikan para pembicara menunjukkan bahwa tidak ada perjalanan karier yang benar-benar lurus maupun sempurna. Yang terpenting adalah berani memulai, terus bertumbuh dari setiap pengalaman, dan tetap melangkah meskipun belum memiliki semua jawaban atas masa depan.

====================================

Media Kontak

Maisa Lutfiya Puteri, Writer

[email protected]

Muhammad Lazuardi Naftali, Editor

[email protected] 

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
YOTNC16 Bekali Generasi Muda Hadapi Kebimbangan Karier di Era Digital
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us