1. News
  2. Komunitas
  3. YOTNC16 Dorong Generasi Muda Menjadi Pemimpin yang Kritis di Era Artificial Intelligence

YOTNC16 Dorong Generasi Muda Menjadi Pemimpin yang Kritis di Era Artificial Intelligence

yotnc16-dorong-generasi-muda-menjadi-pemimpin-yang-kritis-di-era-artificial-intelligence
YOTNC16 Dorong Generasi Muda Menjadi Pemimpin yang Kritis di Era Artificial Intelligence

Jakarta (04/07)YOTNC16 kembali menghadirkan sesi inspiratif yang mengajak generasi muda mempersiapkan diri menjadi pemimpin di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Mengusung tema “Leading Through Disruption: Membangun Generasi yang Siap Memimpin Masa Depan,” sesi ini menghadirkan Prof. Dr. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, sebagai pembicara. Dipandu oleh Jojo, diskusi ini mengupas bagaimana Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan yang perlu dipahami secara kritis agar generasi muda mampu mengambil peran dalam membangun masa depan. 

Mengawali pemaparannya, Prof. Stella mengajak peserta melihat kembali sejarah melalui fenomena Dutch Tulip Mania pada abad ke-17 dan dot-com bubble pada awal tahun 2000-an. Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat pernah menaruh harapan dan investasi yang sangat besar pada satu hal hingga akhirnya mengalami penurunan yang drastis. Menurutnya, salah satu ciri seseorang sedang berada di dalam sebuah bubble adalah ketika hampir semua persoalan dianggap memiliki satu jawaban yang sama.

“Kalau semua pertanyaan selalu dijawab dengan AI, mungkin inilah saatnya kita bertanya, apakah kita sedang berada di dalam sebuah bubble?”
— Prof. Dr. Stella Christie

Melalui sudut pandang tersebut, Prof. Stella mengajak peserta melihat perkembangan AI secara lebih objektif. Ia menyoroti bagaimana AI kini sering dianggap sebagai solusi untuk berbagai persoalan, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, bisnis, hingga penelitian ilmiah. Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi dengan bijaksana agar masyarakat tidak terjebak pada anggapan bahwa satu teknologi mampu menyelesaikan seluruh tantangan yang dihadapi manusia.

Selain membahas potensi AI, Prof. Stella juga menyoroti besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan teknologi tersebut. Ia menjelaskan bahwa konsumsi energi pusat data AI terus meningkat setiap tahun dan diproyeksikan akan semakin besar seiring meningkatnya penggunaan teknologi ini. Tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, AI juga memerlukan air bersih sebagai sistem pendingin pusat data. Oleh karena itu, ia mengajak peserta untuk tidak hanya melihat manfaat AI, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan dan masa depan peradaban manusia.

Dalam sesi tersebut, Prof. Stella juga membahas tantangan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di era AI. Menurutnya, perguruan tinggi tidak dapat memilih antara sepenuhnya bergantung pada AI atau mengabaikannya. Sebaliknya, universitas perlu menemukan pendekatan baru agar tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat.

Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang perlu diperkuat agar perguruan tinggi mampu bertahan di era AI, yaitu creation of knowledge, transmission of knowledge, dan curation of knowledge. Pada aspek creation of knowledge, perguruan tinggi dituntut tetap mampu menghasilkan pengetahuan baru sekaligus menentukan peran manusia di tengah kemampuan AI yang semakin berkembang. Sementara pada transmission of knowledge, universitas perlu mengevaluasi kembali pengetahuan apa yang masih penting untuk diajarkan kepada mahasiswa sesuai kebutuhan masa depan.

Prof. Stella kemudian menekankan bahwa kemampuan yang akan semakin dibutuhkan di masa depan adalah curation of knowledge, yakni kemampuan memilih, menghubungkan, dan memberikan makna terhadap berbagai informasi yang tersedia. Menurutnya, pengetahuan bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan hasil dari proses berpikir yang mampu menghubungkan fakta-fakta tersebut menjadi sesuatu yang relevan dan bermanfaat. Di tengah kemampuan AI mengolah informasi dalam jumlah besar, kemampuan manusia dalam mengkurasi pengetahuan justru akan menjadi pembeda yang tidak tergantikan.

Melalui sesi ini, YOTNC16 mengajak generasi muda untuk memandang perkembangan AI secara lebih kritis dan seimbang. Kepemimpinan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan berpikir, menciptakan pengetahuan baru, serta mengkurasi informasi secara bijaksana. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi pemimpin yang adaptif sekaligus bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai disrupsi di masa depan.

====================================

Media Kontak

Maisa Lutfiya Puteri, Writer

[email protected]

Muhammad Lazuardi Naftali, Editor

[email protected]

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
YOTNC16 Dorong Generasi Muda Menjadi Pemimpin yang Kritis di Era Artificial Intelligence
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us