YOTNC16: Leadership Dimulai Sebelum Ada Jabatan: Prinsip Bisnis dan Kepemimpinan untuk YOTers
Jakarta (04/7) – Konferensi tahunan Young On Top, YOTNC 16, sukses mempertemukan lebih dari 5.000+ anak muda dari berbagai wilayah Indonesia di Swasana BRIN Thamrin Convention Hall. Melalui rangkaian sesi inspiratif bersama tokoh-tokoh dari berbagai industri, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring. Dalam sesi bertema “Vision to Value: Langkah Awal Membangun Mindset Bisnis & Kepemimpinan pada Generasi Muda”, tiga narasumber lintas sektor, Leontinus Alpha Edison, Deputi PEMPPMI Kemenko PM, Co-Founder Tokopedia. Arto Biantoro, Brand Activist, dan A.A.A. Indira Pratyaksa, Direktur SDM & Penunjang Bisnis, PT Pertamina Power Indonesia. Ketiga narasumber tersebut menegaskan satu pesan utama: kepemimpinan tidak perlu menunggu jabatan. Ketiganya berbagi bagaimana sikap, jaringan, dan mindset bisnis yang dibangun sejak dini justru menjadi fondasi utama sebelum seseorang memiliki posisi atau pengalaman formal.
Membuka sesi, Leontinus Alpha Edison menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara orang yang punya vision dan yang tidak terletak pada seberapa dalam mereka mengenal diri sendiri. Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga menemukan porto atau arah yang tepat bukan perkara sederhana dan membutuhkan proses.
“Anak muda perlu memiliki pilar-pilar itu, dan kita tidak akan pernah tahu caranya kalau belum benar-benar terjun. Saya tidak setuju kalau lulus kuliah langsung membangun sesuatu sendiri lebih baik bekerja dulu di sebuah perusahaan supaya punya banyak perspektif, termasuk perspektif dari level direktur,” ujarnya.
Menurutnya, pola pikir itu perlu dibangun secara bertahap, karena membangun bisnis tidak semudah kelihatannya. Sebagai owner, semua tanggung jawab akan berada di tangan sendiri, dan kompleksitasnya jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Menanggapi pertanyaan soal keputusan apa yang bisa mulai diambil anak muda meski belum punya jabatan, Indira menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hak yang datang instan, melainkan sebuah exercise yang bisa dilatih kapan saja.
“Networking dan leadership skill bisa dimulai tanpa kita punya jabatan. Di Pertamina sendiri ada proses asesmen yang harus dilalui, karena kita tidak bisa menilai kepemimpinan seseorang hanya dalam satu atau dua hari,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa membangun trust untuk networking membutuhkan konsistensi harian. Kemampuan menciptakan jaringan, mengambil keputusan, hingga mendelegasikan tugas dan memprioritaskan pekerjaan, menurutnya, harus mulai dilatih sejak sekarang, bukan menunggu sampai memiliki jabatan.
Arto Biantoro membagikan pandangannya soal cara realistis bagi anak muda untuk memulai bisnis dari nol. Menurutnya, era saat ini justru mempermudah siapa saja untuk menjadi wirausaha berkat platform yang tersedia, asalkan memenuhi beberapa syarat dasar.
“Pertama, capital atau modal, yang harus dicari sendiri. Kedua, ilmu pengetahuan, apapun jenis usahanya, kita harus punya bekal ilmu, karena ini soal you want to do it or you won’t do it. Ketiga, kemauan. Dan keempat, networking, meskipun ini sifatnya tidak wajib karena jaringan bisa diciptakan,” paparnya.
Ia menyebutkan bahwa jaringan bisa dibangun dari berbagai sumber, mulai dari keluarga, alumni, rekan kerja, komunitas, hingga orang yang sama sekali belum dikenal.
Ditanya soal keyakinannya saat membangun Tokopedia hingga sebesar sekarang, Leon mengaku bahwa dirinya dan William Tanuwijaya justru memulai dari titik yang sangat tidak menjanjikan.
“Dulu saya dan William berada di posisi gudang, bekerja di perusahaan yang masa depannya tidak jelas. Benar-benar dari bawah. ibaratnya kita sedang berjalan di jalan gelap, tapi di ujung sana ada cahaya kecil dan itu yang harus kita percaya,” katanya.
Leon juga menceritakan perjalanannya dari dunia startup hingga akhirnya terlibat di sektor pemerintahan. Menurutnya, proses ini sama sekali tidak instan. Ia mulai dimintai pendapat oleh berbagai lembaga pemerintah dan turut memberi masukan terkait pembahasan UU Perlindungan Data Pribadi (PDP).
“Saya merasa saya bukan siapa-siapa, tapi ide dan saran saya ternyata masuk ke dalam pasal PDP. Kalau saya jahat, mungkin saya sedang ‘membrainwash’ pemerintah, tapi saya merasa cukup jernih di sektor ini,” ujarnya sambil bercanda.
Dari situ, ia mulai terpikir untuk membantu pemerintah meski awalnya tidak tahu caranya. berbagai pihak pemerintahan yang kerap meminta masukannya soal permasalahan platform digital, membuatnya semakin intens terlibat hingga akhirnya diajak bergabung ke tim sukses pada masa pilpres.
Indira membagikan prinsip kepemimpinan yang menurutnya relevan untuk menciptakan nilai jangka panjang. Salah satu yang ia tekankan adalah pentingnya tidak mendelegasikan tanggung jawab yang seharusnya menjadi milik sendiri.
“Jangan pernah mendelegasikan sesuatu yang membuat kita justru tidak mendapatkan nilai dari situ. Kita harus menciptakan keunggulan diri sendiri. Kalau atasan minta laporan sepuluh halaman, beri dua belas dan yang terpenting, konsisten dengan apa yang kita katakan dan lakukan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kepemimpinan sejati juga soal memberi manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain di sekitar.
Menutup sesi, Arto menjawab pertanyaan soal kesalahan terbesar generasi muda dalam membangun personal brand, yakni kecenderungan untuk langsung berjualan tanpa membangun kepercayaan terlebih dahulu.
“Kunci keberhasilan dalam wirausaha adalah kepercayaan. Begitu langsung jualan, orang akan menimbang untung-rugi lebih dulu. Kita harus bangun kepercayaan dan jaringan dulu, salah satunya dengan menciptakan ‘musuh bersama’, bisa lewat isu kemanusiaan, sosial, atau budaya,” ujarnya.
Menurutnya, membangun kolaborasi dan inisiatif di sekitar isu bersama tersebut jauh lebih penting daripada terburu-buru menjual produk sejak awal.
====================================
Media Kontak
Aisya Rahma, Writer
Muhammad Lazuardi Naftali, Editor