Membuka media sosial selama lima menit saja sudah cukup membuat kita melihat teman yang baru diterima kerja, membeli rumah, menikah, hingga liburan ke luar negeri. Tanpa sadar, banyak anak muda mulai mempertanyakan hidupnya sendiri. “Kenapa aku belum sampai di sana?”
Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa tekanan finansial dan kecemasan terhadap masa depan menjadi salah satu sumber stres terbesar bagi Gen Z. Di saat yang sama, media sosial membuat pencapaian orang lain terasa jauh lebih dekat dan lebih sering terlihat.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Menurut American Psychological Association (APA), kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan dapat menurunkan kepuasan hidup, memicu kecemasan, hingga membuat seseorang merasa gagal meski sebenarnya sedang berkembang.
Masalahnya, kita sering membandingkan “behind the scenes” kehidupan sendiri dengan “highlight” kehidupan orang lain. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses, kegagalan, atau privilese yang mungkin dimiliki orang tersebut.
Alih-alih terus mengejar standar orang lain, anak muda perlu mulai mendefinisikan ulang arti sukses. Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki gaji tinggi. Bagi yang lain, sukses bisa berarti memiliki waktu bersama keluarga, kesehatan mental yang baik, atau pekerjaan yang sesuai passion.
Daripada bertanya, “Kenapa aku belum seperti mereka?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah aku sudah menjadi versi yang lebih baik dibanding diriku enam bulan lalu?”
Hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama. Setiap orang memiliki titik mulai, tantangan, dan waktunya masing-masing. Yang perlu dijaga bukan kecepatan, melainkan konsistensi untuk terus bertumbuh.