1. News
  2. Mojok
  3. Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

tidak-melulu-soal-hantu,-punya-rumah-dekat-kuburan-jadi-“horor”-karena-susah-laku
Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

Kesan pertama yang terlintas di kepala soal rumah dekat kuburan adalah kesan horor atau hal-hal mistis lainnya. Berkat film-film hororkuburan seakan-akan jadi tempat yang penuh setan. Dan, tinggal dekat kuburan berarti tinggal di dekat gudangnya setan. Itu mengapa, banyak orang menghindari punya rumah di dekat kuburan.

Selain alasan-alasan berkaitan dengan setan, banyak orang ogah punya hunian dekat pemakaman karena memang kondisinya nggak enak. Salah satu saudara saya yang tinggal dekat kuburan menceritakan sisi enaknya. Kekurangan yang membuat tinggal dekat pemakaman jadi “horor”.

Rumah dekat kuburan”horor” bagi orang-orang yang gemar bersosialisasi

Ketika saya tanya tentang nggak enaknya tinggal di dekat kuburan, jawaban pertama dia adalah terlalu sepi. Ini memang sudah jadi konsekuensi, kalau tinggalnya di dekat kuburan, ya pasti bakal sepi. Orang yang introvert pasti suka, tapi bagi orang yang ekstrovert seperti saudara saya, sepi jelas menyiksa.

Di sekitar rumahnya, jam 7 malam sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Itu mengapa dia tidak betah di rumah. “Misal kalau pulang kerja sore, paling aku langsung mandi makan, terus jam 6 atau setengah 7 sudah keluar lagi. Biasanya ya main ke rumah temanku di gang sebelah, rame di sana,” curhatnya.

Lingkungan gang rumahnya memang sepi banget. Di gang tersebut, hanya ada 6 rumah, 1 vila pribadi, 1 gudang milik petani, lalu kebun buah dan sayur, baru kuburan. Nggak heran ketika orang yang ekstrovert macam saudara saya merasa “horor” tinggal di sana. Dia tidak bisa ngobrol, tidak bisa bersosialisasi. Mengapa orang-orang begitu pendiam?

Agak kurang nyaman kalau mau bikin acara besar di rumah

Selain perkara lingkungan yang terlalu sepi, nggak enaknya punya rumah dekat kuburan itu suka kurang nyaman kalau mau bikin acara di rumah. Apalagi acaranya yang agak rame, pasti ada perasaan sungkan. Sungkannya bukan ke tetangga, tapi ke kuburannya. Memang terdengar agak aneh, tapi itu yang terjadi.

Sepekan setelah Lebaran kemarin, kakaknya menikah. Keluarga bikin acara resepsi di rumah. Selayaknya resepsi pada umumnya, semua tetangga, teman, dan kerabat tentu diundang. Ada organ tunggal pula. Acara berlangsung lancar dan aman banget, nggak ada protes dari siapapun. Tapi nggak tahu mengapa, dia merasa nggak nyaman aja.

“Kayak ada perasaan nggak nyaman aja, Mas,” ujarnya. “Bayangin, di situ ada kuburan, lalu di sini ada nikahan. Ada dangdutnya pula. Ramai banget. Sementara kalau kita ke kuburan atau ada di dekat kuburan kan harus tenang, nggak boleh berisik, nggak boleh macam-macam. Lha kemarin waktu resepsi), dangdutan sampe malam, ada yang minum-minum pula. Aneh, kan?” lanjutnya.

Saya bisa mengerti perasaan saudara saya ini. Dia merasa khawatir bahwa apa yang dia dan keluarganya lakukan (menggelar acara besar) seakan nggak menghormati ahli kubur. Bahkan, dia juga punya ketakutan bahwa para tamu merasa nggak nyaman datang ke acara yang ada di dekat kuburan.

Harga jualnya nggak bagus, dan cenderung susah laku

Kalau ini, kayaknya sudah jadi rahasia umum. Rumah atau properti yang lokasinya ada di dekat kuburan atau pemakaman memang secara nilai agak kurang. Harga jualnya kurang bagus, dan cenderung susah laku. Bahkan di beberapa kasus, rumah yang lokasinya dekat dengan kuburan ini nggak bisa diajukan sebagai KPR dan nggak bisa jadi agunan pinjaman bank.

Sebagai orang yang rumahnya ada di dekat kuburan, saudara saya nggak punya pengalaman itu. Tapi, dia punya cerita soal tetangganya yang dulu kesusahan menjual rumahnya. Rumah tetangganya ini yang lokasinya paling dekat dengan pemakaman.

Menurut ceritanya, tetangganya dulu menjual rumah tersebut karena ingin ikut tinggal bersama anaknya di Kalimantan. Sialnya, mereka butuh waktu hampir 5 tahun untuk menjual rumah itu. Beberapa calon pembeli merasa keberatan dengan lokasi rumahnya yang terlalu dekat dengan kuburan. Padahal, secara harga sudah berkali-kali diturunkan. Harga cocok, tapi lokasi nggak cocok. Bukankah itu terdengar lebih “horor” dibanding hantu? Apalagi kalau sedang sedang BU alias butuh uang.

Akhirnya, kata saudara saya, rumah tersebut laku juga. Pembelinya adalah orang Surabaya, dan rumah itu lalu direnovasi, dijadikan vila pribadi yang hanya ditempati dua minggu sekali. Soal mengapa orang Surabaya ini akhirnya mau beli rumah yang dekat dengan kuburan, saudara saya ini nggak tahu, dan nggak pernah tanya juga, sih. Lha wong nggak akrab dan jarang ketemu juga.

Itulah 3 alasan tentang nggak enaknya punya rumah di dekat kuburan. Perkara tinggal dekat pemakaman ini nggak selalu soal horor atau mistis, kok. Ada hal-hal lain yang lebih rasional, yang lebih krusial, untuk diperhatikan.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 Penderitaan Punya Rumah Dekat Sawah yang Nggak Disadari Kebanyakan Orang Kota.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us