1. News
  2. Mojok
  3. Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

surabaya-barat:-kota-dalam-kota-yang-bikin-warga-aslinya-jadi-tamu
Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

Tahun ini, mungkin jadi pertama kalinya saya sebagai warga Surabaya menginjak Surabaya Barat Bukan sekadar lewat, tetapi sengaja datang karena ada urusan yang tak bisa saya selesaikan di tempat lain. Lima puluh menit setelah keluar dari pusat kota, saya mulai bertanya dalam hati, “Ini masih Surabaya?”

Kekagetan saya lalu berubah menjadi bingung, tatkala memasuki bagian Surabaya Barat yang lebih sederhana, tanpa kerlap-kerlip lampu dan arsitektur yang megah. Saya mengarungi jalan dengan motor Mio tua, melihat sekeliling rumah yang yang masih menyisakan halaman yang cukup luas di depannya, hal yang cukup janggal untuk ditemui di rumah-rumah Surabaya pada umumnya. Dalam hati berkata “ini masih di Surabaya, kan? Iya kan?”

Sebagai orang yang cukup bangga dengan identitasnya sebagai warga Surabaya, sebenarnya, saya malu untuk mengakui bahwa ternyata saya belum cukup mengenal kota ini. Terbiasa tinggal di lingkungan yang sudah cukup terpeta dan terprediksi barangkali membuat saya malas untuk menjamahi sisi lain. Membuat gambaran tentang “Surabaya Barat” terasa asing dalam benak saya. Misalnya saja, mendengar nama tempat kongkow seperti Spazio atau Expat saja saya sudah minder.

Begitu rapi

Perlu saya akui, impresi pertama saya memasuki wilayah ini adalah daerah ini cukup rapi dibanding wilayah lainnya yang saya kenal seperti Kenjeran atau Kapasari. Banyak juga tempat-tempat nongkrong asyik dan hidden gems, walaupun tak ramah kantong saya. Andai saya diongkosi oleh kawan pun, saya tetap merasa “nggak belong”. Awkward rasanya ikut nongkrong membawa Mio tahun 2010 ke tempat yang parkiran motornya harus turun 5 lantai , atau jika parkir pinggir jalan harus bersandingan dengan CBR keluaran terbaru.

Untuk hitungan orang yang hidup di bilangan Surabaya Pusat yang cukup padat, Surabaya Barat ini rasanya juga terlalu luas. Jika di pusat saja berkendara barang 5 atau 10 menit sudah terasa jauh, di Barat malah teras seperti cuma geser tempat. Belum akses masuk yang tak seramah masuk ke Surabaya timur, selatan, atau utara. Kadang saya harus menembus PGS dulu atau memutar di Raya Darmo, lalu melintang membelah kota lewat Jalan Mayjend Soengkono.

Dalam kesempatan saya di Surabaya Barat yang terbatas, saya menyempatkan untuk “menyesatkan” diri ketika di sana. Yakni menyusuri jalan tanpa arah dan tujuan, ya sekedar ingin tahu lebih banyak sisi kota yang baru saya jamah ini. Berkali-kali saya sengaja tidak membuka Maps. Kalau ada jalan yang tampak menarik, saya belok. Kalau mentok, ya putar balik.

Saya cuma penasaran, sebenarnya Surabaya Barat itu seperti apa kalau tidak dilihat dari brosur perumahan atau unggahan influencer kuliner.

Dalam perjalanan menyusuri Jalan Mayjend Jonosewojo hingga menembus kompleks Unesa, Saya memperhatikan sesuatu yang aneh. Jalan-jalannya (sejauh ini) mulus, taman-tamannya rapi, papan penunjuknya bersih. Tetapi semakin dalam saya masuk, semakin sedikit melihat orang berjalan kaki. Hampir semua orang keluar masuk mobil. Kalaupun ada motor, pastilah motornya tidak sebapuk motor saya.

Warung kaki lima yang umumnya sering saya jumpai di Surabaya Pusat pun mentok terkonsentrasi di sekitaran danau Unesa, itu pun buka ketika malam. Yang menjamur justru deretan restoran, kafe, atau lapangan padel yang bentuknya lebih cocok sebagai iklan properti Minggu pagi ketimbang jadi tempat belanja harian.

Perkampungan di Surabaya Barat

Anehnya, perkampungan tetap ada. Hanya saja, keberadaannya terselip di sudut-sudut perumahan, yang perjalanannya harus mengarungi deretan rumah-rumah megah hingga aspal mulus beralih menjadi jalan berlubang. Seolah-olah kampung itu tidak pernah dianggap menjadi bagian dari wajah Surabaya Barat.

Di Surabaya Pusat, mal berdampingan dengan pasar, deretan rumah mahal masih diselipi pedagang lumpia dan es legen. Tapi di Surabaya Barat, saya justru merasa pusat kehidupan berpindah ke gedung bertingkat dengan jurang tanpa dasar sebagai parkiran motor. Atau perumahan berkluster, yang alurnya hampir seperti labirin. Kota terasa makin rapi, tetapi juga segan untuk dimasuki oleh orang yang tidak tinggal didalamnya.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali melewati underpass Mayjend Sungkono. Lampu merah, baliho, dan hiruk pikuk kendaraan yang saya kenal sejak kecil kembali menyambut. Rasanya seperti pulang dari luar kota. Bedanya, saya tidak benar-benar meninggalkan Surabaya. Mungkin itu bagian paling unik dari Surabaya Barat. Ia masih berada dalam wilayah administratif yang sama, tapi membuat sebagian warganya merasa sedang bertamu.

Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us